KPAI : Hentikan Ekspos, Dukung Keluarga dan Masa Depan ZA dan ZP

Budaya pergaulan di lapisan masyarakat kita berbeda beda cara pandang dalam melihat video viral ZA dan ZP. Inilah yang menjadi persoalan ditengah masyarakat. Tanpa harus membenarkan video viral tersebut. Dan masalah ini hampir dihadapi oleh setiap keluarga yang menghadapi masa pubertas dan pencarian identitas dalam tumbuh kembang remajanya.

Apalagi ZP dikabarkan jauh dari orang tua karena sedang menempuh pendidikan, yang memberi dampak pada relasi keduanya..

Seringkali ketika situasi privat yang sensitif kemudian terlalu vulgar ke publik maka tidak bisa terhindarkan perbedaan pendapat yang keras. Karena itu merupakan masalah sehari hari yang dekat masyarakat seperti kekerasan, pelecehan, penyebaran foto dan video melalui sosial media yang menimbulkan keresahan.

Sehingga peristiwa video viral yang diunggah mereka, menjadi puncak gunung es yang mengundang reaksi beragam bahkan keras di masyarakat.

Namun yang terpenting dari peristiwa adalah bagaimana masyarakat dapat teredukasi dalam persoalan, bahwa membawa ranah privat ke publik membawa konsekuensi. Dan dalam video viral tersebut berhadapan dengan peraturan seperti Undang Undang ITE dan Undang Undang Perlindungan Anak.

Mungkin saja situasi LDR yang mereka jalani diluapkan dalam ungkapan kasih sayang, yang nampaknya terasa berlebihan. Namun ZA dan ZP lupa mereka figur di masyarakat. Apalagi dengan mengunggah video tersebut di sosial media.

Langkah yang penting dilakukan adalah menyadari konsekuensi dan mendapat pelajaran yang bermakna dengan pendampingan dan pengawasan orang tua mereka.

Mereka yang berada di pusaran video viral tersebut perlu dilakukan penyadaran. Bahwa ketika wilayah privat masuk ke area publik maka akan berhadapan dengan hukum yang berlaku.

Peran yang paling penting dilakukan orang tua, ketika anak anak terpapar melihat video adalah melakukan pendampingan dan pengawasan orang tua. Agar mendapatkan pelajaran yang bermakna.

Bagi keduanya ZA dan ZP penting meminta maaf ke publik dan berjanji untuk tidak mengulanginya.

Keduanya yang masih berumur anak, harus segera dihilangkan dari stigma dan fokus pada cita cita dan masa depan kuliahnya.

Saya kira itu juga yang diinginkan publik, dalam melihat permasalahan seperti ini. Agar yang bersangkutan menyadari dan keluarganya tahu. Fokusnya itu.

Untuk konsumsi publik saya kira tidak baik dan harus dihentikan. Karena jika tidak ada pendampingan dalam membaca atau melihat video ini, akan membawa anak pada situasi yang lebih buruk lagi. Untuk itu lebih baik publik mencegahnya bersama anak anak mereka.

Tak terhindarkan dalam situasi pandemi anak anak banyak mengakes internet maka vidio ini bisa menginspirasi anak melakukan perilaku yang sama

Keluarga juga memiliki tanggungjawab mengasuh, mendidik anak, menumbuhkrmbangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya, serta menanamkan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti pada anak meski jauh dari orang tua.

Belajar dari berbagai kasus di media sosial yang filenya meski sudah di hapus tapi dapat muncul di tempat yang lain. Inilah dunia kita sekarang, jejak digital tidak bisa hilang.

Di sisi lain kepercayaan dari orang tua mengijinkan kenal pasangan dan kepercayaan bisa sekolah jauh dari orang tua harus dijaga keduanya.

Sehingga bila peristiwa ini menjadi pelajaran bermakna. Maka akan menjadi edukasi bagi anak, orang tua serta ZA ZP bersama keluarganya. Dan kedepannya dapat mencegah anak anak kita. Karena bicara anak tanggung jawab kita semua.

Salam Senyum Anak Indonesia

Budaya pergaulan di lapisan masyarakat kita berbeda beda cara pandang dalam melihat video viral ZA dan ZP. Inilah yang menjadi persoalan ditengah masyarakat. Tanpa harus membenarkan video viral tersebut. Dan masalah ini hampir dihadapi oleh setiap keluarga yang menghadapi masa pubertas dan pencarian identitas dalam tumbuh kembang remajanya.

Apalagi ZP dikabarkan jauh dari orang tua karena sedang menempuh pendidikan, yang memberi dampak pada relasi keduanya..

Seringkali ketika situasi privat yang sensitif kemudian terlalu vulgar ke publik maka tidak bisa terhindarkan perbedaan pendapat yang keras. Karena itu merupakan masalah sehari hari yang dekat masyarakat seperti kekerasan, pelecehan, penyebaran foto dan video melalui sosial media yang menimbulkan keresahan.

Sehingga peristiwa video viral yang diunggah mereka, menjadi puncak gunung es yang mengundang reaksi beragam bahkan keras di masyarakat.

Namun yang terpenting dari peristiwa adalah bagaimana masyarakat dapat teredukasi dalam persoalan, bahwa membawa ranah privat ke publik membawa konsekuensi. Dan dalam video viral tersebut berhadapan dengan peraturan seperti Undang Undang ITE dan Undang Undang Perlindungan Anak.

Mungkin saja situasi LDR yang mereka jalani diluapkan dalam ungkapan kasih sayang, yang nampaknya terasa berlebihan. Namun ZA dan ZP lupa mereka figur di masyarakat. Apalagi dengan mengunggah video tersebut di sosial media.

Langkah yang penting dilakukan adalah menyadari konsekuensi dan mendapat pelajaran yang bermakna dengan pendampingan dan pengawasan orang tua mereka.

Mereka yang berada di pusaran video viral tersebut perlu dilakukan penyadaran. Bahwa ketika wilayah privat masuk ke area publik maka akan berhadapan dengan hukum yang berlaku.

Peran yang paling penting dilakukan orang tua, ketika anak anak terpapar melihat video adalah melakukan pendampingan dan pengawasan orang tua. Agar mendapatkan pelajaran yang bermakna.

Bagi keduanya ZA dan ZP penting meminta maaf ke publik dan berjanji untuk tidak mengulanginya.

Keduanya yang masih berumur anak, harus segera dihilangkan dari stigma dan fokus pada cita cita dan masa depan kuliahnya.

Saya kira itu juga yang diinginkan publik, dalam melihat permasalahan seperti ini. Agar yang bersangkutan menyadari dan keluarganya tahu. Fokusnya itu.

Untuk konsumsi publik saya kira tidak baik dan harus dihentikan. Karena jika tidak ada pendampingan dalam membaca atau melihat video ini, akan membawa anak pada situasi yang lebih buruk lagi. Untuk itu lebih baik publik mencegahnya bersama anak anak mereka.

Tak terhindarkan dalam situasi pandemi anak anak banyak mengakes internet maka vidio ini bisa menginspirasi anak melakukan perilaku yang sama

Keluarga juga memiliki tanggungjawab mengasuh, mendidik anak, menumbuhkrmbangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya, serta menanamkan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti pada anak meski jauh dari orang tua.

Belajar dari berbagai kasus di media sosial yang filenya meski sudah di hapus tapi dapat muncul di tempat yang lain. Inilah dunia kita sekarang, jejak digital tidak bisa hilang.

Di sisi lain kepercayaan dari orang tua mengijinkan kenal pasangan dan kepercayaan bisa sekolah jauh dari orang tua harus dijaga keduanya.

Sehingga bila peristiwa ini menjadi pelajaran bermakna. Maka akan menjadi edukasi bagi anak, orang tua serta ZA ZP bersama keluarganya. Dan kedepannya dapat mencegah anak anak kita. Karena bicara anak tanggung jawab kita semua.

Salam Senyum Anak Indonesia

Jasra Putra
Komisioner KPAI
Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak
Hp. 0821 1319 3515