KPAI: Merespon Rilis Himbauan Bos Sampoerna Jangan Jual Rokok Ke Anak

https://finance.detik.com/industri/d-5481000/bos-sampoerna-pedagang-jangan-pernah-jual-rokok-ke-anak-di-bawah-umur

Prevalensi perokok anak yang menuju 20 persen perlu diantisipasi banyak pihak (Sumber Riskesdas 2018 dan Bappenas 2018). Penemuan balita merokok juga menjadi fenomena yang gamblang terang benderang. Global Youth Tobacco Survey 2019 mencatat hal tersebut. Salah satu penyebab terbesarnya adalah tempat penjualan yang terbuka, kemudian berturut turut penyebab lainnya adalah televisi, iklan luar gedung dan media sosial.

Untuk itu menyikapi rilis belum lama ini, yang menghimbau para pedagang jangan pernah jual rokok ke anak di bawah umur oleh bos sampoerna Presiden Direktur HM Sampoerna Mindaugas Trumpaitis yang menegaskan memang harus ada perubahan praktis bisnis rokok di Indonesia, menjadi perhatian KPAI.

Sudah saatnya pelaku industri rokok yang mengakui bahaya rokok, memikirkan kembali praktek penjualannya kepada para pengecer, penjual ketengan, warung dekat sekolah dan pemukiman agar benar benar jauh dari jangkauan anak. Begitu juga sales rokok yang marajalela. Karena jika hanya himbauan akan sangat sulit pelaksanaannya dilapangan, karena kenyataannya di lapangan sangat jauh panggang dari api, namun harus ada komitmen pihak swasta setelah pemerintah mengupayakan menaikkan harga cukai rokok. Tentunya larangan ini dengan kesadaran semua pihak, setelah melihat tren data di atas. Perlu upaya dan komitmen lebih.

Pembatasan produksi juga di perlukan, bagaimana mungkin ketika produksi melimpah, kemudian tidak di jual. Karena akan sulit ditahan prakteknya di lapangan, artinya perlu keseriusan dan kehati hatian dalam merespon himbauan ini, agar tidak dikatakan seperti lempar batu sembunyi tangan. Dan kita meyakini kemanusiaan lebih di kedepankan di era pandemic Covid ini, terutama mengurangi ransangan penyakit pernafasan dan reaksi pandemic lainnya.

Agar regulasi dan stop peredaran kepada anak jelas posisinya dalam hukum, ada upaya hukum dan tindakan hukum, dengan keprihatinan kita kepada tingginya percepatan prevalensi angka perokok anak. Yang juga jadi perhatian Bos Sampoerna.

Kita juga harus berupaya melakukan upaya rehabilitasi bagi anak pecandu rokok, Tentu dengan prevalensi yang menyatakan tinggi ini, menyatakan pecandu perokok anak juga besar angkanya. Dan bisa dipastikan membutuhkan pusat rehabilitasi yang banyak, terutama didaerah daerah yang penjualan dan konsumen rokoknya sangat cepat dan tinggi. Tentu produsen industri rokok yang tahu.

Jangan sampai pemerintah sudah berusaha keras dengan mengeluarkan kebijakan kenaikan cukai, tapi tidak diiringi dengan habitat pelaku industry yaitu perusahaan, sales, promosi, iklan, sponsor, paparan asap dan penjualannya yang mudah di jangkau anak. Tentu upaya pemerintah akan menjadi sia – sia. Artinya ancaman tumbuh kembang anak-anak di Indonesia ke depan akan bisa jadi lebih berat, jika tidak ditangani lebih dini, dengan penuh kesadaran melihat fenomena data yang terus meninggi ini. Karena tren datanya dari tahun ke tahun meningkat terus, namun kita tidak pernah terlaporkan persebaran produksi batang rokok, dalam jumlah sebenarnya, beredar di masyarakat. Kalau yang terlaporkan untuk penghitungan cukai, sudah di pegang pemerintah, lalu bagaimana di pemerintah daerah, apakah sudah di dorong ke hal yang sama. Harusnya hak informasi konsumen dan masyarakat tidak dihilangkan dalam rangka bersama sama men stop anak merokok.

Kita ingin himbauan Bos Sampoerna tidak berhenti dan hanya disini, namun saya kira beliau bisa mengupayakan lebih lagi, agar keinginan mulia beliau menjauhkan rokok dari anak anak dibawah umur benar benar terjadi. Sehingga keinginan bersama menurunkan prevalensi perokok anak, benar benar terjadi di Indonesia. Kita ingin kampanye stop menjual rokok ke anak terus dilakukan para pelaku industrinya. Agar regenerasi perokok tidak terjadi, karena kenyataannya angka prevalensi perokok anak meningkat terus, yang menyatakan dibaliknya produksi juga meningkat terus. Karena potensi pasar yang dibaca pelaku industrinya. Mari duduk bersama lagi, untuk keinginan mulia kita semua, men stop perokok anak. Bahwa investasi kesehatan di dunia saat ini, menjadi sangat penting untuk sebuah Negara, kalau mau tidak tertinggal dengan Negara lain. Karena kemajuan suatu bangsa di masa pandemic, sangat di tentukan upaya mendukung segala cara untuk kesehatan.

Salam Hormat,

Jasra Putra
Kepala Divisi Pengawasan, Monitoring dan Evaluasi
Komisi Perlindungan Anak Indonesia
CP. 0821 1219 3515