Pengumuman MK, KPAI Ingin Semua Pihak Menahan Diri Untuk Tidak Lagi Melibatkan Anak Anak

Jelang pengumuman MK, KPAI mengkhawatirkan kondisi anak anak yang terpapar kabar bohong dan ikut terpolarisasi. Karena kejadian tersebut telah diungkap pekerja sosial bersama Kepolisian dan Bapas dalam pendampingan 25 hari anak anak yang terlibat aksi Mei lalu.

Seperti diketahui, ketika berkomentar dengan cara dan bahasa yang tidak layak, menyebabkan anak anak menjadi korban. Baik meninggal, luka luka, dan terlibat situasi kekerasan. Sudah 91 anak yang dalam pemantauan KPAI terlibat dalam peristiwa Mei lalu. Data itu merupakan kumpulan peristiwa 22 sampai 23 Mei yang dikumpulkannya, mulai dari data korban di salah satu rumah sakit, korban meninggal dan yang saat ini dilayani rehabsos. Dari ratusan korban peristiwa tersebut, ia meyakini masih banyak korban anak anak yang belum dikunjunginya.

Dalam pertemuan Jasra di Balai Rehsos Anak Membutuhkan Perlindungan Khusus Kementerian Sosial. Terungkap, sebagian orang tua tidak mengetahui anaknya terlibat kerusuhan, karena mereka menitipkan anak anaknya di Lembaga Pendidikan. Yang justru dimobilisasi dalam kegiatan tersebut. Untuk itu kehadiran kembali anak anak di Patung Kuda kemarin, sangat mengkhawatirkan. Jangan sampai anak anak menjadi korban kembali.

Kabar esok MK akan mengumumkan hasil sengketa pemilu, mengajak Jasra kembali mengingatkan bahwa jangan sampai situasi yang perlu perhatian khusus ini, kembali melibatkan anak anak di frontline, laksana martir. Resikonya mereka bisa kehilangan dirinya, keluarganya dan masa depannya, karena anak anak berada dalam situasi psikologis yang tidak menentu. Biarkan mereka tumbuh dewasa, dan diberi kesempatan berkembang, hingga nanti mereka matang dan layak memasuki pentas politik kebangsaan ini.

KPAI juga melihat pentingya sikap persuasive, dengan mencegah sejak dini, ketika aparat menemukan anak 0 – 18 tahun diaksi jalanan, Agar para petugas melakukan pendekatan persuasive, atau bila ada orang tuanya disampaikan resiko yang bisa dialami. Lebih baik menitipkan anak anak kepada keluarga yang bisa di percaya.

Begitu juga kemungkinan anak anak terlibat menyambut euphoria kemenangan atau terlibat dalam aksi protes kekalahan. KPAI sangat menghimbau orang tua, guru, Lembaga Pendidikan sama sama bertanggung jawab untuk memastikan anak anak mereka dalam keadaan baik dan aman.

Jasra juga menghimbau Lembaga Pendidikan seperti pesantren dapat menahan diri untuk tidak melibatkan anak anak dalam aksi jalanan, karena situasi jalanan sangat tidak baik untuk anak anak. Lembaga juga harus perhatikan, terutama untuk para pengasuh dan pendidik agar memiliki perspektif yang sama. Bahwa anak perlu situasi aman, nyaman, hak bermain dari lingkungan yang aman dan nyaman. Bukan dengan mempertaruhkan jiwa mereka.

UU 35 tahun 2014 tentang PA pasal 15 yang menyatakan setiap anak memiliki hak perlindungan dari penyalahgunaan dalam kegiatan politik. Perlindungan disini tentu mengacu kepada kepentingan terbaik bagi anak, tumbuh kembang anak, termasuk mendengarkan pandangan dan pendapat anak. Sehingga anak-anak kita terhindar dari “eksploitasi” untuk.kepentingan orang dewasa.

Untuk itu KPAI akan terus memantau dan menghimbau semua pihak agar menghindari anak anak dalam penyalahgunaan kegiatan politik. KPAI tidak pernah bosan mengingatkan berulang ulang sejak Pemilu 2014, Pilkada 2017, Pemilu 2019 dan juga Pilkada 2020 agar penyelenggara pemilu dan peserta pemilu menjaga komitmen dan keberpihakan pada kepentingan terbaik anak.

*Jasra Putra*
Komisioner KPAI Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak
Ketua Divisi Monitoring dan Evaluasi KPAI
0821 1219 3515