Saatnya Sekolah Menguatkan Peran Keluarga Dalam Menghidupkan Lingkungan Belajar Di Rumah

*Saatnya Sekolah Menguatkan Peran Keluarga Dalam Menghidupkan Lingkungan Belajar Di Rumah*

Kalau boleh ditukar, biarkan saya saja yang sakit. Itulah perkataan setiap orang tua yang melihat buah hatinya menderita karena sakit. Apalagi terjadi pada bayi, balita atau anak anda yang masih kecil.

Sebelum virus covid merebak, ada isu kekerasan di sekolah yang hampir setiap hari tersaji di media kita. Bagaikan virus ia menular sambung menyambung. Namun isu itu telah tenggelam, bersama kabar massifnya penularan virus korona. Pilihan prioritas perhatian kita berubah. Bahkan sudah ada anak positif tertular virus tersebut.

14 hari dirumah aja menjadi menggema di sosial media, demi menghindari mudahnya penularan virus covid 19 yang dapat menjadi gangguan pernafasan akut. Kebayang kan kalau itu terjadi pada anak kita. Masa beberapa hari inkubasi virus yang menetap di tubuh, menyebabkan pemerintah menentukan jarak aman 14 hari dalam rangka memastikan virus telah mati dan menghentikan penularannya. Dengan keyakinan tersebut diharapkan anak anak terhindar dari gangguan pernafasan akut ini

Kebijakan sekolah tidak aktif dan menetapkan anak dirumah saja selama 14 hari tentu tidak mudah. Bayangkan kebiasaan atau kelekatan atau perlakuan antara guru dan orang tua yang sangat berbeda di rasakan anak.

Umumnya di sekolah anak anak lebih mudah diarahkan, karena semua adalah teman seumurannya (peer to peer). Sehingga guru dapat mengajar dan mengarahkan pendidikan sebaya antar mereka. Dengan dukungan media belajar yang fokus, tidak terganggu yang lain.

Sedangkan dirumah orang tua fokusnya tidak satu. Mulai dari bangun pagi, membersihkan rumah, memasak, menyiapkan anak anaknya, dan bekerja. Anak juga senang 14 hari dirumah dibanding memaknainya sebagai pengganti sekolah belajar dari rumah.

Mengajak anak berkonsentrasi di rumah tentu tidak mudah, karena eksplorasi anak di rumah lebih luas dan banyak pilihan. Bagi anak belajar dirumah adalah mengerjakan PR atau tugas saja. Itupun hanya sebentar, tidak kegiatan seharian.

Melihat faktor diatas menjadi tantangan tersendiri bagi para orang tua yang setiap hari dapat tugas dari para guru mendampingi buah hatinya, yang sebelumnya tugas ini diserahkan orang tua kepada para guru. Tugas tersebut akan semakin terasa, karena para orang tua harus menunjukkan hasilnya setiap hari kepada para guru dengan mengirimkannya melalui media sosial atau komunikasi japri.

Jasra Putra Komisioner KPAI Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak sangat mengapresiasi upaya keras orang tua mendampingi putra putrinya selama 14 hari dirumah, tentu tidak mudah. Tapi bukan berarti tidak bisa. Karena modal yang kuat dengan kelekatan, kasih sayang orang tua dan anak akan dapat mengurangi tekanan keduanya.

Membuat jadwal bersama bisa menjadi bangunan kesepakatan antara orang tua dan anak, apalagi 14 hari dirumah, sekolah telah mengirimkan jadwal dan tugas yang harus dikerjakan setiap harinya. Untuk itu, agar dapat menyelesaikan tugas tugas tersebut, tanyakan pada anak apa yang bisa didukung orang tua agar tugas tugasnya dapat selesai.
Bangun disiplin positif bersama sama, mendampingi belajar, membantu menemukan jawaban jawaban, membuat agenda yang bisa bersama sama di lakukan. Seperti makan bersama, ibadah bersama, berdiskusi soal kesulitan belajar anak dan mencoba mengatasinya.

Anak tentu juga mengalami kebosanan belajar, untuk itu variasi mengerjakan sesuatu penting di lakukan agar anak fokus kembali. Kegiatan membuat kreatifitas bersama bisa menjadi pilihan, seperti menggambar bebas, membuat origami, bermain tebak tebakan, menemukan hal hal baru atau menyaksikan perubahan sesuatu bisa menjadi riset kecil dan mengajaknya bermain peran dalam bermain bersama dapat mengatasi kebosanan. Apalagi dirumah memiliki banyak media yang dapat digunakan, seperti game dan alat olahraga.

Sekolah yang menggunakan media interaktif, online dan teleconference tentu juga menjadi daya tarik tersendiri buat anak anak, selama mengikutinya tidak membosankan.

Kegiatan lainnya juga bisa didorong sekolah menjadi tugas bersama anak anak dalam rangka anak anak lebih peduli anggota keluarganya, rumah dan lingkungannya. Sekolah dapat mengajak anak anak mengenal lingkungan rumah yang sehat. Menugaskan anak anak mencatat benda benda yang membuat rumah mereka selalu bersih, apa saja dirumah yang menurut mereka harus selalu bersih. Dimana mereka mengumpulkan sampah dan membuangnya. Dengan merekam dalam video pendek atau foto dan mengirimkannya kepada teman teman sekelasnya, sehingga tetap ada interaksi dan memotivasi teman teman sekelasnya untuk melakukan hal yang sama.

Kegiatan orang tua dirumah, juga bisa dibantu anak anak. Sekolah menugaskan apa yang anak lakukan dalam membantu orang tua setiap hari, dan mengirimkan dokumentasinya. Seperti saat membersihkan kamar, menyapu, menyiram tanaman, belajar atau membantu bersama kakak dan adiknya, tentu sesuai kondisi masing masing. Berharap 14 hari dirumah aja, bisa membangun kelekatan yang baik dalam dunia belajar dan bermain antara guru, orang tua dan anak.

Untuk media belajar, banyak open source dan aplikasi dari pemerintah, ruang guru, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang dapat dikunjungi secara online guna dipakai orang tua dalam menciptakan situasi yang lebih kondusif untuk anak belajar dirumah.

Tetapi membayangkan anak anak yang hidup di lingkungan padat, seperti rusun, slum area, ada upaya ekstra, memang tidak mudah, butuh penggerak yang intens dan terjadwal mengajak masyarakat mencegah dan kampanye tentang bahaya korona dan menfasilitasi ruang belajar bagi anak anak kita dengan memperhatikan himbauan pemerintah yang boleh dilakukan dan tidak dilakukan diruang publik.

Hindari anak dari kerumunan dan mari saling jaga generasi bangsa kita. Ajak anak anak lebih mengerti mengapa mereka harus dirumah dengan mengenalkan apa itu virus korona. Semoga upaya terus menerus dalam 14 hari ini, mampu menjadikan orang tua yang lebih baik untuk anak anak kita.

Salam Sayang Anak Indonesia,

*Jasra Putra*
Komisioner KPAI
Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak
HP. 0821 1219 3515