Tidak Ada Orang Tua Jahat, Yang Ada Karena Tidak Paham Cara Menghadapi Anak

Peristiwa anak 8 tahun yang kerap mendapatkan kekerasan dari ayah tirinya tentu membawa keprihatinan kita semua. Ini untuk ke sekian kalinya kita menyaksikan rentetan peristiwa kekerasan anak yang dilaporkan media.

Kasus kekerasan tersebut di kabarkan dilakukan RR (24 ) di rumah kontrakannya , di Kampung Babakan Baru, Desa Ragajaya, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, yang sempat viral di medsos

Kita apresiasi warga setempat yang bergerak cepat ke rumah korban dan menghentikan upaya pelaku melanjutkan aksi kekerasannya.

Kita juga satir ya mendengar dari media, tentang ibunya yang bekerja ojek online dan sebenarnya tahu kondisi rentannya hubungan anak dengan ayah tirinya. Serta kondisi Ibunya yang juga mengalami KDRT. Kita sedang membayangkan seorang ibu yang bekerja dan khawatir kondisi anak kecilnya dirumah, dengan perangai keras suami, yang dikabarkan telah 1 tahun melakukan kekerasan di luar batas kepada anak anak dan istri.

Saya juga melihat situasi para pekerja ojek online, pengantaran barang atau mobil online dengan pengendara perempuan yang membawa anaknya bekerja. Saya pernah menjumpai pengantar barang dan pengantar makanan yang membawa anak selama bekerja. Apalagi kalau bicara Ibu ini yang dalam bekerja dengan menahan perasaan khawatir tentang anaknya. Karena anak tanpa orang tua ataupun dengan orang tua, harus dipastikan mendapatkan pengasuhan yang layak. Namun bila tidak ada yang bertanggung jawab memastikan, lalu kepada siapa anak anak yang berada dalam situasi keluarga seperti ini, dapat berharap.

Komisi Perlindungan Anak Daerah Kabupaten Bogor melaporkan para pihak telah melaksanakan case conference seperti pemerintah daerah, pekerja sosial dan para pemerhati anak di Bogor.

Hasil laporan sementara peristiwa terjadi karena pertengkaran anak, sehingga luka akibat air panas yang menyebabkan terjadi pembalasan. Anak kerap mengalami kekerasan dari ayah tirinya seperti di sundut rokok, diseterika dan di ikat tangan dan kakinya. Sekujur tubuh anak terlihat luka lama dan baru, terutama yang mencolok tangannya yang melepuh sehingga membawa trauma mendalam. Istrinya juga mendapatkan KDRT. Kekerasan tersebut telah berlangsung 1 tahun. Sebenarnya 2019 pelaku sudah pernah dilaporkan ke Kepolisian, namun terulang kembali. Puncaknya peristiwa kekerasan Senin malam (4/4) yang membuat warga setempat tidak tahan, dan menyelamatkan anak.

Untuk diketahui anggota keluarga tersebut, terdiri dari anak hasil perkawinan dengan pelaku, dan sebelum menikah ibu sudah memiliki anak dari suami sebelumnya. Tentu saja sangat perlu di dalami kondisi keluarga tersebut, karena peristiwa kekerasan yang sudah berlangsung lama.

Dengan peristiwa tersebut, nampak tontonan budaya kekerasan di tiru anak anak, sehingga membawa situasi yang makin buruk dalam relasi pola keluarga ini. Kita menangkap situasi pemandangan kekerasan menjadi jawaban, atas situasi dirumah. Sekali lagi penyebab ini terjadi, perlu didalami lebih detail, untuk melihat pola relasi anak dan orang tua. Karena seringkali dalam pernikahan yang saling membawa anak, pasangan menikah kurang memiliki kelekatan dengan anak, atau pola hubungan kakak dan adik yang bisa ada kecemburuan satu sama lain. Namun tentu adaptasi keluarga ini menjadi tambah buruk dengan pengakuan istri yang mengalami KDRT.

Bisa jadi peristiwa pertengkaran antara anak terjadi, ketika anak yang lain menuntut perhatian ayahnya, atau merasa tidak diperhatikan. Sehingga menyebabkan mencari perhatian. Hanya dengan cara yang salah, dengan bertengkar.

Sebenarnya dari peristiwa ini kita berharap orang tua bisa mengajarkan nilai nilai positif, disiplin positif, penengah yang baik. Bukan dengan membalas kekerasan, menyeterika anak, menyundut rokok dan memasungnya. Tentu saja harapan itu, juga harus disertai membangun kapasitas orang tua untuk meningkatkan kemampuan mengasuh. Hanya apakah daerah tersebut memiliki tempat untuk para orang tua memampukan dalam mengasuh, tentu perlu dipastikan.

Salam Hormat,

Jasra Putra
Kadivwasmonev KPAI
CP. 0821 1219 3515