Bagikan Juga

Peristiwa aksi intoleransi oleh warga kepada puluhan peserta retreat pelajar Kristen di Kampung Tangkil, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi di yang disebut Gubernur Jawa Barat di media sebagai peristiwa anarkis, kehidupan bertetangga yang rukun harus dijaga meskipun ada perbedayaan keyakinan dan pentingnya pengobatan trauma anak anak. Menjadi tombol alarm pentingnya mengajarkan generasi kita tentang mengenal perbedaan dalam beragama, berkeyakinan dan adat.

KPAI melihat ada 4 kata kunci yang disampaikan, pertama bahwa ada peristiwa anarkis, kedua bertetangga harus mengenal yang berbeda, ketiga promosi kerukunan menjadi kunci utama dan keempat pemulihan para korban anak anak.

Pertama peristiwa anarkis, memang nyata bila mendengar langsung dari video yang beredar dan keterangan media, bahwa ada, yang suasana yang mencekam, pemandangan yang memilukan, tidak terkendali dengan teriakan pembakaran, pengrusakan. Yang tentu sangat mengancam anak anak, dan membahayakan nyawa setiap orang dalam eskalasi psikologi massa yang tidak terkendali. Artinya ada trauma yang sangat mendalam pasca peristiwa.

Kalau boleh mengutarakan pendapat, kita sedang membayangkan situasi yang menyebabkan anak anak, berada dalam situasi yang sangat mencekam, bayangan kehilangan nyawa, kehilangan harta benda, kehilangan orang orang yang disayangi, yang menjadi peristiwa tidak sederhana dan tersimpan didalam memorinya, bahwa peristiwa singkat itu akan terbawa terus sepanjang hayat hidup anak anak, yang akan membawa ketakutan dalam beragama, setiap saat bisa memicu untuk menjadi bayangan yang berulang, kecemasan yang berlebihan, yang ujungnya menjadi perilaku beresiko untuk anak anak, tentu sangat menyedihkan. Sehingga sudah tepat jika Gubernur Jabar menekankan segera adanya pemulihan trauma. Dan umumnya dari pengalaman KPAI situasi anak anak seperti ini akan terbawa panjang, yang tentu butuh pendampingan jangka panjang untuk pemulihan, dan perlu terus di pantau. Hingga benar benar pulih.

Kedua, bertetangga harus mengenal yang berbeda. Tentu ini didorong menjadi perhatian besar dan serius Muspida setempat. Bahwa situasi tidak mengenal yang berbeda keyakinan, dapat menjadi situasi autopilot menggerakkan pembakaran, pengrusakan, bahkan mengancam nyawa. Sehingga ruang mengenal berbeda ini, memang nyata, masih sangat mahal di kenalkan, tetangga kita, ruang keluarga kita, generasi kita, dengan bukti peristiwa tersebut.

Sehingga penting ada upaya extra ordinary (akar masalah) untuk mengenalkan ruang perbedaan sejak dini, agar anak anak tidak bertumbuh menjadi generasi penuh prasangka ketika disentuhkan dengan isu perbedaan keyakinan yang memang pada pengalaman negara ini sering dimanfatkan, menjadi isu liar yang tidak bisa dikendalikan.

KPAI mengusulkan memperbanyak ruang perjumpaan dalam berbagai kegiatan, yang secara nyata mengenalkan perbedaan keyakinan dalam ruang kemanusiaan dan memanusiakan. Sehingga perbedaan keyakinan tidak lagi dilihat seperti benda asing dan bukan bagian dari diri anak anak dengan tetangganya.

Ketiga promosi kerukunan menjadi kunci utama, artinya sebagai bumi panca waluya yang mengedepankan nilai nilai luhur, harus benar benar terjadi dan rekayasa di akar rumput masyarakat setempat, pasca peristiwa di TKP. Sehingga pendidikan panca waluya yang memiliki praktek baik di beberapa tempat, juga perlu di usulkan dibuat di lingkungan TKP, menjadi pembiasaan. Agar praktek baik tersebut, juga dirasakan penduduk di sekitar TKP terutama untuk generasi selanjutnya.

Sehingga opini yang dibangun sangat liar tanpa interaksi sama sekali yang dibuktikan dengan suasana sangat anarkis di TKP dapat di cegah di kemudian hari. Perbuatan autopilot ini bisa segera di cegah. Sehingga diharapkan generasi selanjutnya dapat menyemai promosi kerukunan yang ditegaskan Gubernur Jawa Barat harus ada di TKP.

Keempat pemulihan para korban anak anak. KPAI berharap sejak awal pemulihan ini menjadi program yang di rekayasa bersama masyarakat. Ada saling interaksi masyarakat sekitar TKP, para pelaku dan para korban. Untuk benar benar realita terjadi interaksi, perjumpaan, saling memaafkan, kalau bisa di rutinkan dan di monumen kan, agar menjadi pembelajaran di kemudian hari.

Sehingga sejak awal pemulihan trauma ini benar beanar harus tepat, sehingga tidak membawa trauma yang terbawa bawa ke masa depan. Saya kira pengalaman BNPT dalam tahapan mempertemukan para pelaku terorisme dengan keluarga korban terorisme, bisa menjadi praktek baik untuk TKP. Ada tahapan yang sejak awal di rekayasa, sehingga trauma jangka panjang dapat dihapus dengan kesadaran bersama sama tentang pentingnya menerima perbedaan dan kemanusiaan di utamakan dalam nilai nilai luhur Jawa Barat.

Salam Hormat,

*Jasra Putra*
Wakil Ketua KPAI
CP. 0821 1219 3515


Bagikan Juga