Bagikan Juga

Bulan November adalah bulan Hari Pahlawan. Yang hari ini di peringati Indonesia dimana mana, terutama ditandai dengan gelaran upacara seantero Indonesia di Taman Makam Pahlawan.

Pagi tadi, tabur bunga mewangi, dengan iringan kenangan larut sangat dalam. Terutama bagi keluarga Pahlawan yang sedang Ziarah Nasional di Haru Pahlawan. Sekaan air mata nampak menahbiskan begitu merasuk nya rasa kehilangan sosok Pahlawan, yang sampai sekarang sangat dihormati dalam rangkaian kenangan dan cerita perjuangan.

Di luar itu, 8 November 1984 juga ada suara lolongan melarung kesediha, yang di teriakkan seorang anak berumur 7 tahun, dengan nama Arie Hanggara. Di bulan Pahlawan ini, para pemerhati anak dan pejuang anak, juga biasa mengenang kembali badan kecil yang penuh luka, akibat menjadi pelampiasan pusaran konflik orang tua.

Anak yang seolah olah mengalami 2 alam kehidupan. Antara rumah dan sekolah. Keceriaan nya di sekolah yang dibawa ke rumah, tidak serta merta, terbawa ke atmosfer rumah. Keceriaan ananda selalu tertinggal di sekolah. Yang berganti sebagai anak yang menjadi pelampiasan dan pembenaran sikap orang tua atas konfliknya.

Di jaman itu, relasi kuasa konflik berlapis orang tua melakukan pembenaran dan mengakhiri hidup bocah 7 tahun. Yang tak pernah tahu, mengapa konflik orang tua harus mengakhiri hidupnya. Iringan jenazah menuju Jeruk Perut pun resah dalam penghakiman atas hidup seorang anak belia 7 tahun, yang tak pernah mengerti mengapa harus ia yang dihabisi.

Sekarang, setiap bulan November, kita mengenang Arie Hanggara. Kekuatan kita tenggelam dalam sosok jazad anak yang seharusnya bisa kita tolong, bila kita peduli, sesuatu peristiwa yang harusnya bisa kita cegah. Namun belum selesai mengenang, kita seperti twrus di usik, resah dengan tangisan tangisan pilunya. Yang tak terdengar orang tua yang memukulinya. Bahkan pelampiasan konflik orang tua itu, terus diterimanya sampai pukulan terakhir. Pukulan terakhir yang tak pernah sadar dan tak terhenti. Bahwa yang mereka pukul terus menerus saat emosi itu datang, di tengah pelampiasan itu, sudah hilang nafasnya. Dan meregang nyawa dalam pukulan algojo emosi yang tak habis habis.

Kita tenggelam bersama kecintaan lugu seorang anak, bersama cerita cerita kita, tanpa kita bisa cegah kepergiannya. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan.

Untuk itu sudah sepantasnya, kita menghadapkan diri, menengadahkan tangan berdoa, mengatakan cinta tanpa syarat dalam air mata dan kegetiran. Seolah olah, menbayangkan hadir di pemakanan Jeruk Purut dimana Arie Hanggara bersemayam 39 tahun.

Bahwa bulan November ini, kita tahbiskan Kematiannya menjadi Mercu Suar Perlindungan Anak Indonesia. Yang memanggil setiap Pahlawan perlindungan anak untuk bangkit dan bekerja.

Arie Hanggara adalag anak yang hidup di 2 alam berbeda, di sekolah ia dikenal sebagai bocah periang di mata teman temannya. Namun dirumah menjadi alat pelampiasan, yang seolah olah dianggap ujung masalah, semua permasalahan orang tua berasal. Saat itu kenakalan orang tua tidak disandang, orang tua adalah simbol kebenaran, di mana anak anak harus tunduk. Sehingga perilaku Arie Hanggara adalah sebuah kesalahan, dalam mem protes segala prahara di rumah. Protesnya, justru dianggap penyebab semua masalah orang tua saat itu.

Sampai sekarang kisah Arie Hanggara, selalu dikenang. Mungkin kalau di jaman itu, ada media sosial. Kita akan membanjiri dan mengutuk jagad maya untuk mewakili perasaan kita.

Namun di tengah tahun 2023 ini ternyata kisah Arie Hanggara masih berulang, dengan anak anak yang menghukumi dirinya, atas segala situasi yang tak pernah diinginkannya. Dengan ditengah teriakan sunyi anak anak yang membutuhkan pertolingan, 17 anak bunuh diri. Meski latar belakangnya berbeda. Di kepala kita ada pertanyaan, terutama para pemerhati anak. Tidak cukupkah teriakan korban, telinga kita, mata kita dan perasaan kita peraturan perlindungan anak, media sosial, untuk mencegahnya? Untuk terpanggil, peka, dan mendengar penderitaan mereka yang luar biasa, hingga memilih bunuh diri?

Kita menyadari, situasi penanganan kita masih sama, di tengah berbagai produksi mengingatkan pentingnya melindungi anak. Laksana tak berubah, sehingga harus menyentuh 17 nyawa. Padahal kita merasa sebagai pemerhati anak sudah kerja luar biasa.

Semua kerja, sudah di launching, dari tingkat akar rumput sampai di menara gading sana. Tetapi masih tak cukup, mewakili, dan mempresentasikan suara suara korban. Apa yang salah?

Siapa yang bisa tahu, anak anak dalam ruang keluarga, ruang sekolah, lingkungan dalam bahaya. Bahkan berperilaku beresiko dengan membawa dan menyerahkan diri dalam ancaman mengakhiri hidup? Anak anak yang emilih mengakhirinya dengan cara yang tragis. Mereka seolah olah lebih memilih perlindungan anak dalam ruang sunyi, dengan damai mengakhiri masalah dalam kematian.

Sedangkan di menara gading sana, bicara stop kekerasan, mari putus kekerasan, hapus kekerasan anak. Dan 17 anak itu, menemukan cara, menerima pesan itu, telah menerima pesan kita semua, menyetopnya dengan kematian. Mungkin, karena pertolongan yang kita bunyikan, bunyi yang banyak itu, masih di rasakan terlalu jauh? Karena sampai di tengah antara tarikan nafas terakhir dan gelapnya kematian, mereka masih tidak menemukan kita?

Apakah perlindungan anak, masih hanya sekedar peringatan, launching dan acara, yang sewaktu waktu saja? Apakah kebahagiaanku harus antri setelah kebahagiaan orang dewasa. Sehingga kami tak punya hak rasa aman, rasa dihargai, dan rasa dilindungi?

Apalagi kalau bicara ruang keluarga yang kecil, ruangan yang berjejak sebagai tempat paling dirindukan anak. Sambil mereka teriak,

Aabk 17 bunuh diri sudah berkata, kami ini kecil mudah dikuasai, mudah dibohongi karena tidak mengerti, dan perasaan kami campur aduk mencari secercah cahaya kedamaian, yang titik gelapnya, memilih menuju kematian. Wallahu’alam

Mari bangkit jadi pahlawan mereka. Mari hadirkan bunuh diri mereka, untuk kebangkitan kita


Bagikan Juga