Bagikan Juga

Teknologi Untuk Kemudahan dan Memudahkan, Bukan Untuk Kekerasan

Jelang 2023 berbagai alat kebutuhan manusia mulai digerakkan tidak hanya dalam gadget, tapi akan semakin menuju lebih ‘real’ karena mengandalkan mobilitas bergerak, virtual reality, seperti kebijakan energy baru yang terbarukan dengan dunia mengandalkan baterai listrik sebagai penggerak mobil. Kehadiran mobil listrik tentu akan menyebabkan adaptasi berbagai alat atau kebutuhan manusia lainnya. Agar lebih compatibel dengan perangkat yang mendukung kehidupan manusia.

Hal itu juga akan menambah fungsi dan perkembangan nilai lebih gadget. Bahwa mau tidak mau, anak anak akan semakin mudah menggunakan alat digital, termasuk mobil, kebutuhan alat alat rumah tangga dan kebutuhan kehidupan anak lainnya.

Namun terbayang, bila tanpa pendampingan, pendidikan sejak dini, pengarahan transfer nilai, makna dan karakter, seringkali dampak dari meniru apa yang ada di dunia digital mereka akan berakibat sangat buruk, bila tanpa pengawasan. Bahkan anak anak bisa menjadi oknum yang tidak bertanggung jawab atas penggunaan alat alat tersebut. Karena pada kenyataannya sangat mudah anak anak masuk dan terregistrasi dalam berbagai aplikasi digital. Dan kita para orang tua baru sadar, ternyata dampaknya sangat masif dan menjadi hambatan tumbuh kembang jiwa mereka, menjadi hambatan kecerdasan emosi dan jiwa anak anak.

Saat ini jumlah gadget telah melebihi jumlah total penduduk Indonesia. Artinya tentu pengguna besarnya anak anak dan remaja. Begitupun anak anak yang terhitung tidak punya hp, namun sehari hari menggunakan hp milik orang tuanya. Yang pada kenyataannya, saat mengunakan, banyak anak belum mengenal literasi gadget, literasi aplikasi, literasi informasi secara baik. Sehingga mereka mudah mendapat perlakukan salah, dikorbankan, menjadi pesakitan, yang akhirnya menjadi korban.

Anak anak juga belum mengerti keamanan data dan keamanan data keluarganya. Yang menyebabkan anak mengisi begitu saja, yang akhirnya menimbulkan kerugiannya sangat besar, bahkan beberapa anak terpapar menjadi kecanduan, pesakitan bila tidak memegang gadget mereka, yang membawa pada kewajiban orang tua menjalani pengobatan, pemulihan. Ini yang sekarang menjadi konsen tahun belakangan tentang gangguan perilaku dan gangguan jiwa anak dari dampak gadget yang sangat berdampak buruk dan merugikan anak.

Semua modus dan motif kejahatan saat ini lebih banyak digerakkan melalui didunia digital, dan yang paling terbanyak memanfaatkan teknologi digital adalah anak dan remaja. Sehingga data cyber bullying dan cyber crime korban anak lebih dominan. Namun tidak mudah bagi Kepolisian menangkap pelakunya yang anonim, karena kebutuhan penguasaan teknologi dalam pengungkapan kasusnya, yang menuntut tersedianya pembiayaan yang tinggi, penjangkauan kasus yang cenderung meluas. Sehingga layanan pengungkapan kasus cyber bullying dan cyber crime masih sangat terbatas sarananya di Kepolisian. Namun kasusnya tidak tertahankan masuk disemua wilayah Indonesia, tak terkecuali.

Ada anggapan juga, melalui kotak ajaib digital orang tua mampu memenuhi kebutuhan anak, mewakili keamanan dan kenyamanan anak, mewakili pengasuhan anak dan dianggap bisa mengurangi tekanan orang tua. Namun kalau melihat korban korban cyber bullying, cyber crime, perdagangan anak, eksploitasi seksual anak melalui transaksi digital, kita baru tahu begitu banyak anak anak yang sebenarnya terjebak dalam perlakuan salah, dan sulit kembali karena di kuasai mereka, dan ujungnya anak anak dapat dihakimi siapa saja, karena ketidak pahaman dampaknya.

Catatan KPAI dalam Buku Terjal Perlindungan Anak Dalam Kegiatan Politik mencatat bagaimana anak anak di gerakkan dari aplikasi digital, kemudian mereka ikut kegiatan berbau politik atau kepentingan tertentu di jalanan, anak anak diajak menggerakkan tawuran, anak anak menjadi martir pada kegiatan demonstrasi, anak anak menjadi pelaku kejahatan eksploitasi seksual, yang motifnya didorong karena janji pemenuhan eksistensi di dunia media sosial, menjanjikan secara instant kebutuhan esensial remaja dalam pemenuhan tren. Hingga anak digunakan dalam dalam perdagangan anak, narkoba, rokok, miras, prostitusi dan kejahatan. Apalagi para pelaku mendekati mereka seolah olah mengenal dan tahu kebutuhan anak, karena mentraking data dan informasi anak sebelumnya.

Untuk itu penting sekali para orang tua, mengembalikan generasi native digital kita, kepada nilai nilai esensial hadirnya teknologi di tangan mereka. Perlu kembali melakukan refleksi, pemaknaan, bahwa teknologi hadir untuk memudahkan mereka.

Namun nilai dari penciptaaan teknologi yang dititipkan Tuhan melalui tangan tangan penciptanya, memiliki makna memudahkan kehidupan anak anak. Untuk itulah penting generasi native digital kita diingatkan, paham arti kehadiran gadget dan teknologi yang menyertainya, bahwa mereka punya peran yang sama dengan teknologi, yaitu memudahkan sesame.

Sehingga diharapkan dengan anak anak paham, makna penggunaan gadget yang serampangan bisa dikurangi. Harapannya refleksi ini bisa mengurangi cyber bullying atau cyber crime antar anak, antar sebaya. Tahun 2023 harus jadi resolusi baru anak anak, dalam mengembalikan makna gadget yang dipegang mereka, dalam rangka memudahkan sesama, membantu sesama, menolong sesama, mendukung sesama dengan penggunaan teknologi gadget mereka.

Teknologi hadir di tangan mereka bukan untuk kekerasan, menjadi pelaku cyber bullying atau cyber crime dengan melakukan kekerasan di media sosial kepada teman temannya, berperilaku ceroboh dalam bersosial media dengan komentar yang dapat merugikannya pada perlakuan salah, yang berakhir anak anak berhadapan dengan hukum.

Pembekalan penggunaan teknologi menjadi kebutuhan sangat penting, saat ini, yang harus dipahami orang tua, dan negara wajib menghadirkan orang orang yang paling dekat dan paham untuk menyelamatkan anak anak dari lokasi terdekatnya. Agar kedepan anak anak menjadi bagian dalam membangun dunia digital yang lebih beradab, yang lebih memiliki kedaulatan digital. Karena mereka adalah pengguna terbesar digital kita saat ini.

Untuk itu saya mengajak, mari manyambut tahun yang baru 2023 dengan 3 kata, pertama BERSYUKUR atas kemudahan yang diberikan Tuhan sehingga kita bisa sampai di penghujung tahun, kedua MENGINGAT apa yang sudah diberikan agar tidak terlena, karena generasi sebelumnya tidak bisa menikmati seperti anak anak sekarang dan ketiga ‘terakhir’ MERAWAT agar semakin terjaga, tahan lama, bermanfaat, dan memberi nilai lebih untuk memudahkan sesama di tahun 2023. Mari mengubah cara pandang penggunaan teknologi kita, untuk memudahkan sesame, bukan untuk penguasaan dan kekerasan sesama.

Salam Hormat,

Jasra Putra
Komisioner KPAI
CP. 0821 1219 3515


Bagikan Juga