Dalam kunjungan kerja aktifis anak ke meja legislator, ketika membahas RUU Pengasuhan Anak yang punya nama lain RUU Pengasuhan Semesta, ada anggapan konyol yang menyebut RUU Pengasuhan sebagai RUU Pembantu, kan majikan yang mengatur pembantu, dan itu ranah pribadi. Yang menandakan pentingnya terus membangun perhatian pentingnya perlindungan anak dan pengasuhan anak. Namun bila RUU ini tak hadir, kekerasan di dalam ruang tersembunyi didalam keluarga, tak akan pernah tersentuh.
Meski sulit dimajukan tahapannya, namun para pengamat, praktisi, perlindungan anak melihat, masalah anak saat yang kita lihat hari ini, di dominasi masalah puncak anak. Makanya selalu muncul fenomena puncak gunung es, yang berarti 2 hal, pertama bahwa yang muncul kepermukaan hanya puncaknya, artinya di bawah sana realitanya kasusnya sangat melimpah. Namun di arti yang kedua adalah memang lama tidak tertangani, sehingga yang diberitakan saat ini adalah masalah puncaknya, setelah lama masalah masalah kecilnya tidak tertangani. Yang semua sepakat karena perlakuan salah dari ruang ruang privat lama terabaikan, terutama yang peristiwa yang terjadi di dalam rumah.
Memang sejak masuk prolegnas RUU Pengasuhan Anak tidak maju maju tahapannya, para aktifis anak yang mengawal RUU ini, inginnya menjadi inisiatif pemerintah dan DPR, tapi jadinya hanya 3 anggota dewan yang mau memasukkan ke prolegnas. Tentu saja secara akomodasi politik posisinya sangat lemah. Namun selemah lemahnya, itulah sekuat kuatnya perjuangan. Sehingga perjuangan RUU ini selalu patah, meski masuk prolegnas berulang kali.
Pemerintah sebenarnya melalui KPPPA mendorong segera di syahkan nya undang undang tersebut. Karena menurut mereka UU Perlindungan Anak seperti pincang, karena masih banyak gap yang masih belum tertuang dalam UU Perlindungan Anak, meskipun sudah ada PP Pengasuhan Anak, namun takkan pernah cukup.
Padahal kalau disadari bersama, pola pengasuhan masyarakat kota, desa sampai dusun, sudah sangat berubah bahkan sangat beragam. Dan itu terbentuk masif, sejak gawai berada dalam genggaman anak.
Bahkan gejalanya sudah sangat masif, dengan tingginya angka dan dampak kekerasan KDRT, rumah, sekolah dan lingkungan yang ujungnya anak yang paling dirugikan dari situasi yang terus memburuk, akibat terabaikannya situasi tersebut. Sehingga sekarang, begitu mudah menemukan masalah anak anak di dekat kita, yang bertumbuh ke arah yang tidak diinginkan. Saya kira masyarakat sudah berada pada tingkat khawatir dan waspada, hanya memang tidak bisa bekerja sendirian dan berfikir sendiri.
Bagi KPAI jika RUU Pengasuhan Anak di anggap adalah RUU Pembantu atau anak adalah asset pribadi, seperi menjadi sesat fikir. Karena hari ini anak anak kita, tidak berada dalam kondisi aman aman saja, meski sudah kita protek semaksimal apapun untuk anak kita, mampu di tembus oleh yang namanya gawai dan berbagai sebab turunan dan penyertanya. Yang artinya segala yang tadinya di luar sana, dianggap jauh, dengan gawai dan cara bekerjanya semua bisa mendekat, terutama industry candu.
Industri candu yang dimaksud adalah industry kekerasan dalam berbagai bentuk, industry gawai, industry rokok, industry miras, industry judol, industry pornografi. Karena mereka semua menuntut pemakainya untuk terus memakai dosisnya lebih tinggi. Seperti mendengar kekerasan kami masukkan industry candu, karena mendengar marah itu menular. Dan bisa membawa anak dalam kekerasan, atau terpapar kekerasan. Yang dampaknya akan terus meninggi. Itulah candu menuntut pemakainya untuk mengkonsumsi dosis semakin tinggi, untuk memenuhinya.
Yang merusak imajinasi anak adalah, akan sangat berbeda, ketika anak anak bertanya ketika dia mimpi basah (misalnya), itu akan menjadi diskusi alami. Dibanding ketika mereka sudah terpapar pornografi, dan kemudian mengalami mimpi basah, tetapi sudah terpapar pornografi. Sehingga alami itu, yang harusnya independent dan menjadi sikap baik. Berubah arah dengan industry candu.
Ini satu contoh saja ya, dari industry candu, maka terbayang dengan dampak yang muncul. Sehingga tumbuh kembang yang harusnya alami, tetapi semua tanpa sadar kita diarahkan ke industry candu, yang anak tidak pernah tahu resikonya kedepan, tapi bagi industry candu yang penting produknya terjual, panjang di konsumsi, dan menjadi keuntungan yang menggiurkan. Di balik itu sebenarnya anak anak kita sedang diperas sampai kering, sehingga tidak bisa menikmati masa produktifnya, tidak bisa menikmati Indonesia dan akhirnya menyerang Indonesia seperti sekarang, yang dimulai dari lingkup keluarga. Ini tercermin dari munculnya masalah anak anak sekarang. Seperti masalah jiwa, yang awalnya sebenarnya kehilangan hak pengasuhan saja. Tapi tidak terasa oleh kita.
Jangan jangan ada pandangan yang salah, dengan anak anak kita kuasai dalam perlakuan salah, akibat kita tahu itu bermasalah, tetap karena dianggap dalam penguasaan orang tua. Sehingga terus terlewatkan.
Maka pantaslah banyak situasi anak dalam catatan pengaduan KPAI, sebenarnya adalah kasus yang telah menjadi puncak masalah anak. Karena ada yang sudah lama tidak tertangani, atau di tangani tapi tidak selesai selesai, sehingga seringkali apa yang di tangani APH hanyalah muara ujungnya, dari persoalan yang tak pernah ada ujungnya, tak selesai selesai, karena sebenarnya tak tertangani sejak dalam rumah. Itulah juga yang nampak dari beberapa kasus yang nampak ke permukaan dari hasil monev KPAI.
Sebenarnya anggapan pengasuhan hanya milik pembantu, bisa kita artikan dalam arti yang sangat luas, bisa berarti sewa pembantu, atau sewa pembantu yang menetap, atau dibantu sewaktu waktu, atau memberi hp sebagai pengganti pengasuhan, uang jajan, akses berlebihan tanpa batas, merasa anaknya paling aman dan nyaman karena sudah semua fasilitas dipenuhi dan memenuhi keinginan anak.
Tapi kalau ada anggapan seperti ini pun, pada kenyataannya kita menyaksikan, apa yang terjadi pada anak kita, meski kita tutup, nyatanya juga akan mempengaruhi anak lainnya. Akhirnya ada ruang yang selalu mengintai dan dapat menembus anak anak menjadi tidak aman, bahkan sebenarnya kita tahu itu sudah mengancam, tapi kita tidak tahu harus apa?. Baik yang terlihat atau tidak.
HP dengan segala industry candu didalamnya, seolah dianggap menjadi penyembuh untuk segala penyakit. Tapi realita sebaliknya, dari audiensi KPAI ke Menkes membuktikan gawai penyebab anak anak mudah putus asa, kurang daya juang, dan gawai cenderung menambah rentetan industry candu, semakin terkonek dan bertali temali dalam mengkerangkeng anak anak kita.
Bahwa tanpa harus di penjara, sebenarya anak anak sudah terpenjara, dengan situasi yang tidak ada pilihan, Dengan banyaknya mereka mengakses konseling, curhat, akses tenaga kesehatan jiwa. Artinya antara industry candu dan kondisi anak sekarang, sangat tidak sebanding dampaknya, bahkan kalau kita hitung dengan pajak yang diterima, bahkan kalau di ukur dengan dampak, akan menjadi horror dan mengerikan, kalau kita mau jujur.
Menkes menyampaikan temua semua tenaga kesehatan pada anak anak yang menghabiskan waktu di gawai adalah kondisi stadium 4, jadi sangat telat, karena proses menuju kesini membutuhkan tahun tahunan, yang menjadi gangguan perilaku dalam ganguan kejiwaan. Gangguan ini menjadi perilaku anxiety, fomo, mudah terserang panik, depresi yang disorder, diskonek, dan tidak bisa membedakan antara realita dan maya.
Pengasuhan yang diharapkan terjadi sejak dini dengan interaksi intensif orang tua dengan anak, justru dengan pengasuhan gawai melahirkan anak anak yang kurang bersosialisasi, bahkan menjadi delay wicara. Sayangnya juga ada anggapan yang salah, gawai dianggap sebagai pengganti pengasuhan dan mengatasi kebosanan anak, padahal ini sesuatu yang sangat salah kaprah, dengan dampaknya yang terang benderang sekarang. Tetapi masih di lakukan. Harusnya semua yang diberikan masih menjadi status barang milik orang tua, sehingga bisa di jadwal, di atur. Bukan menyerahkan pada anak langsung.
Menkes menyampaikan kita butuh banyak ahli therapy wicara. Karena banyak bayi, balita, anak yang mengalami telat wicara. Akibat sejak lahir sudah dengan gawai. Artinya dibalik itu, kita tahu angka anak anak seperti ini sangat besar. Karena sudah tidak terakomodir dengan tenaga kesehatan yang ada sehingga industry kesehatan membutuhkan perekrutan therapy wicara dalam jumlah besar.
Karena kita tahu dengan semua kebutuhannya di penuhi dari gadget, maka dunia luar sudah tidak ada, dunia sosial sudah tidak ada, mereka terblock dari dunia luar, kalaupun interaksi hanya sekedarnya, andaikan interaksi tentu dengan sangat-sangat terbatas. Akibat gawai mereka di tempeli ketat promosi industry candu. Padahal kita sepakat itu semua dijauhkan dari anak. Tapi pada kenyataannya sejak ada gawai semua bisa bermanipulasi, berkamuflase, tanpa filter kita semua. Fenomena terakhir permen mengandung pembuatannya dari bahan non halal. Dan mudah di beli anak.
Sehingga KPAI melalui kelompok kerja pengaduan sering dikeluhkan, dengan menyebut anak anak mereka tidak connect, anak tidak berempati dengan orang tua, karena sudah tidak bisa berinteraksi langsung dalam keadaan benar benar sadar dan fokus.
Mereka terbiasa multi dalam satu konsentrasi di hp seperti Cahaya, Gerak, warna warni, ransangan pemicu yang lengkap dari berbagai graphis, dan pesona dari dalam hp nya, terpadu di semua anggota tubuh dan reaksi dalam tubuh. Karena menggerakkan semua, maka mereka akan sangat bertahan lama memakainya. Yang artinya semuanya (given) dari gawai.
Maka anda akan terbayang stimulasi yang lengkap dari dalam gawai. Kemudian berganti aktifitas rutinnya sekolah yang hanya monoton. Kenapa monoton? Contoh dominasi di sekolah kegiatannya adalah metode ceramah, dari satu arah, dan dominasi, yaitu metode pembelajaran dengan mendengarkan guru, tentu itu sangat monoton, guru menjadi figur yang tidak semenarik gawainya, sehingga mereka tidak akan pernah bisa fokus di sekolah.
Makanya jangan kaget, kalau reaksi mereka yang lebih dominan mengantuk, membosankan. Karena kalau reaksi tubuh kita melihat sesuatu tidak menarik, namun kita dipaksa keadaan untuk terus melihat, iya yang muncul kejenuhan, kebosanan. Yang berujung tidak mudah konsentrasi. Penjejalan yang terus menerus ini berakhir mengantuk, kesel, marah, atau reaktif tidak beralasan dan tidak fokus. Karena kita tahu di dalam gawai banyak tawaran yang lebih tampilannya tidak seperti guru, multi konsentrasi.
Sehingga ketika gawai sudah membuat anak anak kita kecanduan, akibat gawai tersebut ditempeli industry candu, maka ujungnya otak mereka tidak biasa aktif, karena terbiasa semua tersedia, dan di intervensi dalam aplikasi atau platform gawai.
Disinilah yang KPAI sebut Industri Candu, karena akan terus menuntut mengkonsumsi dengan dosis yang tinggi. Sehingga orang tua merasa khawatir, karena kalau sudah kecanduan, mereka lupa kewajiban sehari harinya, tanggung jawab akan dirinya. Sehingga anak kita tidak memahami realita, tidak bisa membedakan realita dan dunia nyata.
WHO mengingatkan anak yang lebih dari 3 jam menggunakan hp, sudah masuk kategori menuju gangguan jiwa. Karena tanpa pendampingan sama sekali, tanpa filter informasi, dan menerjemahkan sendiri.
Dunia sosial itu tidak dikenal lagi, bahkan dari sosial yang paling kecil yaitu keluarga. Orang tua membahasakannya mereka hidup tidak nyata, sehingga tidak menyadari punya kewajiban di dunia nyata, karena lebih banyak di manipulasi industry candu, di kamuflase industry candu dalam gawainya. Padahal disana tidak ada kewajiban, dan menjadikan mereka kurang bertanggung jawab dengan apa yang di transaksikan pada gawai mereka
Semua aktifitas menjadi maya, merasa menang dalam dunia maya, mengejar rangking dalam dunia maya. Sehingga orang tua merasa dunia sekolah sudah jauh terkalahkan, tidak multi seperti gawai, meski mereka masuk, yang ada tidak fokus dan hanya mengantuk.
Sekarang dikenal istilah Brain Rott, yang sebenarnya ujung dari dampak itu semua, yang melahirkan kekerasan sampai gangguan perilaku bahkan gangguan jiwa, karena pelan pelan anak mengalami pembusukan otak, otakyang didalamnya berisi pusat kordinasi secara motoric, psikomotorik, kejiwaan. Namun tidak diaktifkan. Maka terbayang pusat koordinasi itu tidak aktif ketika menghadapi realita.
Sehingga menurut saya, program Kemendikdasmen yang mengajak kembali anak ke kehidupan realitasnya melalui 7 karakter utama, dan menggunakan senam anak Indonesia hebat sebagai media sosialiasi masif 7 karakter utama itu, saya kira sangat tepat. Tapi apakah itu benar benar mengakar dan menjadi rutinitas, itu perlu di pastikan orang tua, sekolah dan lingkungan. Karena ini perlu masif menjadi gerakan budaya anak anak, diantara mereka, inisiatif ini perlu terus hidup. Sehingga benar benar menjadi pembelajaran mendalam dalam perilaku sehari hari dengan 7 karakter utama tersebut.
Salam Hormat,
*Jasra Putra*
Wakil Ketua KPAI
CP. 0821 1219 3515
